Jumat, 19 September 2014

Jika kita berbicara tentang psikologi perkembangan anak disitu kita akan melihat aspek-aspek serta teori-teori yang mempengaruhi perkembanganya, ada tiga teori yang mempengaruhi perkembangan anak.
1. Aliran Nativisme
2. Empirisisme
3. Konvergensi

nah, dari tiga aliran ini saya akan bahas mengenai teori Empirisme.
Aliran Empirisisme adalah kebalikan dari Nativisme yang mana aliran Nativisme memandang bahwa perkembangan manusia itu di tentukan oleh pembaharunya ( Genetika ) orang tuanya. sedangkan pengalaman dan pendidikan tida berpengaruh apa-apa.

Sebagai contoh, jika sepasang orangtua ahli musik, maka anak-anak yang mereka lahirkan akan menjadi pemusik pula. Harimau pun hanya akan melahirkan harimau, tak akan pernah melahirkan domba. Jadi, pembawaan dan bakat orangtua selalu berpengaruh mutlak terhadap perkembangan kehidupan anak-anaknya. Benarkah postulat (anggapan dasar) ini dapat terus bertahan.

Sedangkan Aliran Empirisisme berpandangan bahwasanya perkembangan anak lebih di pengaruhi oleh faktor Pengalaman dan lingkungan, aliran ini menganggap seorang anak dilahirkan bagaikan kertas kosong yang mana pengalaman dan lingkunganyalah yang mempengaruhi perkembangan nya aliran ini di kenal juga dengan Doktrin
"tabula rasa", sebuah istilah bahasa Latin yang berarti batu tulis kosong atau lembaran kosong (blank slate/blank tablet). Doktrin tabula rasa menekankan arti penting pengalaman, lingkungan, dan pendidikan dalam arti perkembangan manusia itu semata-mata bergantung pada lingkungan dan pengalaman pendidikannya. Tokoh aliran ini adalah Jhon locke. Namun, aliran ini lebih berpengaruh terhadap para pemikir Amerika Serikat, sehingga melahirkan sebuah aliran filsafat bernama environmentalisme.

sebagai contoh Jika seorang anak memperoleh kesempatan yang memadai untuk pelajari ilmu politik, tentu kelak ia akan menjadi seorang politisi. Karena ia memiliki pengalaman belajar di bidang politik, ia tak akan hanya menjadi pemusik, walaupun orangtuanya pemusik sejati. Memang amat sukar dipungkiri bahwa lingkungan memiliki pengaruh terhadap proses perkembangan dan masa depan anak. Dalam hal ini, lingkungan keluarga (bukan bakat pembawaan dari keluarga) dan lingkungan masyarakat sekitar telah terbukti menentukan tinggi rendahnya perilaku dan masa depan seorang anak. Kondisi sebuah kelompok masyarakat yang berdomisili di kawasan kumuh dengan kemampuan ekonomi di bawah garis rata-rata dan tanpa sarana umum seperti mesjid, sekolah, serta lapangan olah raga telah terbukti menjadi lahan yang subur bagi pertumbuhan anak-anak nakal. Anak-anak di lingkungan seperti ini memang tak punya cukup alasan tidak menjadi brutal, lebih-lebih apabila kedua orang tuanya kurang berpendidikan.

Di dalam sebuah hadis juga di jelaskan bahwasanya yang mempengaruhi perkembangan anak adalah faktor pengalaman dan lingkungan.

كُلُّ مَوْلُوْدٍ يَـوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ وَفِى فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانَهُ أَوْيُنَصِّرَانَهُ أَوْيُمَجِّسَانَهُ
Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan Yahudi, Nasrani atau Majusi.

Wallahua'lam...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar